Tuesday, November 17, 2009

Mengatasi Sick Building Syndrome di Lingkungan Kerja

(managementfile - HR) - Apakah Anda sering mengalami pusing, alergi, hidung gatal, mata merah, dan sulit berkonsentrasi terutama ketika berada di kantor? Anda mungkin mengalami apa yang disebut Sick Building Syndrome (SBS). Apa itu SBS dan bagaimana cara mengatasinya?

SBS, menurut Wikipedia merupakan kombinasi dari sindrom yang terkait dengan lingkungan kerja atau tempat tinggal. Menurut WHO, penyebab dari SBS ini sebagian besar adalah kualitas udara ruangan yang kurang baik. Apa saja faktor-faktor yang mengakibatkan SBS ini?

Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab SBS:
• air conditioner yang desainnya kurang baik
• pemeliharaan ventilasi kurang baik
• suhu,dan tingkat kelembaban yang terlalu tinggi
• kondisi kantor yang terlalu berisik
• udara yang terlalu kering
• polutan dalam ruangan, misalnya seperti serpihan yang berasal dari makanan, pakaian, sepatu, dan debu
• rendahnya jumlah ion negative di udara, yang salah satunya mengakibatkan aliran oksigen terhambat
• dan sejumlah kondisi buruk lain di lingkungan kerja, termasuk hubungan yang buruk dengan rekan kerja.

SBS ini sangat berbahaya, karena mengakibatkan dampak-dampak buruk bagi karyawan. Akibat lingkungan kerja yang kurang kondusif, maka karyawan jadi lebih sulit konsentrasi, akibatnya produktivitas berkurang, kepuasan kerja rendah, turnover karyawan tinggi, karyawan sering sakit sehingga tingkat absensi tinggi. Akibatnya, tentu kinerja perusahaan secara keseluruhan jadi tidak optimal.

Untuk mengatasi Sick Building Syndrome ini, maka dapat diimplementasikan beberapa solusi:
• Ajukan kepada atasan Anda untuk memasang ionizer, yang berfungsi untuk memperbaiki kualitas udara
• Taruh vas atau pot bunga yang berisikan tanaman hidup, selain meningkatkan kelembaban juga menghasilkan oksigen
• Jangan menggunakan lampu yang sinarnya terlalu terang dan menyilaukan
• Menjaga ruang kerja supaya tetap bersih, dimana tiap karyawan bertanggung jawab terhadap meja kerjanya. Debu yang berlebihan dapat mengakibatkan alergi dan SBS.
• Lakukan istirahat sejenak secara rutin, beranjak dari kursi dan berusaha mencari udara segar.
• Ketika jam istirahat, lakukan lunch di luar gedung, jangan makan sambil bekerja. Jika Anda terlalu sibuk, tetap usahakan istirahat keluar sejenak
• Jangan langsung masuk ke keramaian atau transportasi umum seusai bekerja. Jalanlah sejenak untuk menghirup udara segar.
• Jika langkah-langkah diatas gagal, maka hubungi atasan Anda untuk mengambil solusi yang lebih tepat.
Apakah Anda mengalami gejala-gejala SBS tersebut? Segera ambil langkah yang tepat untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja Anda.

sumber: http://managementfile.com

Menjadi Orang Yang Tepat Waktu

(managementfile - HR) - Siang itu Cicil terpaksa melewatkan jam makan siang bersama-sama dengan rekan geng makan siangnya. Supervisornya minta pekerjaan yang sudah jatuh tempo hari itu dan belum diselesaikan Cicil harus segera diselesaikan siang hari itu juga. Kalau bicara soal jam karet, memang tepat dialamatkan ke sosok yang bernama Cicil ini. Dalam segala hal sepertinya Cicil dikenal suka jam karet.

Sebenarnya tidak enak rasanya dikenal jika kita suka jam karet karena sedikit banyak itu akan mempengaruhi performance kita dimata atasan. Jika kita mau berbenah diri dan sadar bahwa sifat jelek ini bagai batu penghalang, berikut ini ada beberapa tips-tips yang dapat diterapkan dan menolong kita untuk mengubah image kita menjadi orang yang suka tepat waktu (alias tidak terpaksa untuk tepat waktu).

1. Berpikir positif
Bisa jadi sifat suka ngaret itu dimulai dari satu pemikiran yang salah dalam menilai diri sendiri. Sebelum memulai satu tindakan, dalam pikiran kita harus ditanamkan bahwa kita bisa berubah. Tidak ada istilah sulit jika kita mau berusaha dan tidak pasrah dengan kekurangan kita. Bayangkan juga satu kepuasan jika pada waktunya kita dapat menyelesaikan sesuatu. Setidaknya berpikir bahwa hal itu mendatangkan manfaat bagi diri sendiri (jika belum bagi orang lain).

2. Cari tahu hal apa yang membuat kita sering terlambat

Tidak perduli, takut, tidak percaya diri, rendah diri, demotivasi adalah beberapa faktor penyebab seseorang menjadi tidak suka tepat waktu. Sibuk membandingkan kekurangan diri sendiri dengan keberhasilan orang lain membuat waktu kita banyak terbuang sia-sia, alhasil target tidak tercapai. Untuk ini kita bisa minta masukan dari orang-orang terdekat untuk mengatasi hal-hal tersebut.

3. Daftarlah aktivitas harian dengan rinci

Perlu komitmen dan kedisiplinan untuk melakukan hal ini.Orang yang suka ngaret adalah orang yang tidak mau terikat dengan satu waktu. Dengan mencatat dan menentukan kapan dilakukannya, kita dapat belajar menetapkan diri pada satu waktu untuk ditepati tentunya.

4. Tentukan prioritas

Berapa banyak aktivitas yang harus dilakukan, yang terpenting adalah menetapkan skala prioritas sehingga pada akhirnya semua tugas dapat diselesaikan tepat waktu. Sehingga kalau terpaksa ada aktivitas yang harus dikorbankan, pilihlah dari prioritas terakhir.

5. Siapkan keperluan pada malam sebelumnya
Lebih cepat lebih baik. Slogan kampanye beberapa waktu yang lalu sepertinya tidak ada salahnya juga dipilih untuk satu tips ini. Secara mental, hal ini akan mempengaruhi usaha kita untuk memulai satu hari di hari dengan sukses untuk tepat waktu.

6. Jangan ragu untuk katakan tidak
Seringkali kita tidak mau menolak limpahan tugas dari rekan kerja/lainnya lebih karena merasa segan sehingga dengan over load malah membuat semuanya tidak selesai dan kacau. Jadi harus bisa berkata tidak pada waktu yang tepat.

7. Komitmen datang lebih awal, tidak hanya tepat waktu

Datang lebih pagi di kantor sedikit banyak akan membuat orang melihat bahwa kita punya komitmen untuk menjadi lebih baik. Secara mental juga akan membuat kita lebih siap, semangat, tanpa harus diburu-buru sehingga menolong kita lebih cepat untuk menyelesaikan semua tanggung jawab kita di kantor.

8. Aktifkan reminder pada HP Anda

Disarankan alarm ini dipasang beberapa waktu (hari/jam) sebelumnya sehingga kita memiliki waktu untuk melakukan persiapan.

9. Berikan reward pada diri sendiri

Pada saat kita berhasil menjadi tepat waktu, tidak ada salahnya kita memberikan reward bagi diri sendiri. Hal ini penting sebagai satu bentuk motivasi untuk kita menjadi lebih baik.

sumber: http://managementfile.com

Menjadikan Konsumen Sebagai Pemasar

(managementfile - Sales & Marketing) - Apakah kegiatan pemasaran yang efektif harus dilakukan melalui iklan atau promosi ? Mungkinkah kita bisa melakukan pemasaran tanpa pemasaran? Dapatkah kita menjadikan konsumen sebagai pemasar kita? Itulah ide dasar Brand Hijack. Alex Wipperfurth, penulis buku Brand Hijack, Marketing without Marketing mendefinisikan brand hijack sebagai pengambilalihan merek oleh konsumen. Untuk menciptakan merek yang diambil alih, ada dua elemen penting yang diperlukan yaitu merek itu sendiri dan konsumen.

Peran Merek
Calon merek yang diambil alih harus menawarkan suatu terobosan baru serta menjadi bagian dari gaya hidup, asosiasi atau aktivitas, dimana pemain pertama biasanya akan menjadi trend setter. Merek yang diambil alih juga harus memiliki kualitas. Kualitas bukan berarti semata teknologi yang lebih baik, melainkan pengalaman yang lebih baik.

Konsumen juga bukan lagi sekedar target pasar, melainkan partner. Sementara merek biasa hanya memperhitungkan volume penjualan dan keuntungan semata, merek yang diambil alih mengorbankan volume dan keuntungan pada awalnya guna mendapatkan orang yang tepat untuk memiliki pengalaman terhadap produk tersebut. Sementara merek biasa ditujukan untuk semua orang, merek yang diambil alih memiliki sejumlah rintangan bagi orang untuk mendapatkannya sehingga konsumen akan lebih mencintainya. Salah satu contoh adalah para penggemar fanatik merek Louis Vuiton yang rela mengantri demi mendapatkan merek yang mereka cintai.

Peran Pemasar

Selanjutnya, elemen kedua adalah konsumen yang mengambil alih merek tersebut. Ada sekelompok konsumen yang sangat fanatik terhadap suatu merek. Ada konsumen Nike ataupun Harley yang rela menato tubuhnya dengan logo produk tersebut. Kelompok ini disebut brand tribe yaitu sekelompok orang yang memiliki ketertarikan terhadap merek tertentu serta menciptakan nilai sosial paralel dengan nilai pribadi, ritual, kosa kata dan hierarkinya. Dengan demikian, riset pasar bukan hanya untuk wawancara biasa, melainkan harus mencakup antropologi untuk mengerti sub-budaya, ritual serta budaya konsumsi. Komunitas merek ini merupakan tren sosial yang berkembang saat ini.

Mengubah konsumen dari pemakai biasa menjadi orang yang fanatik terhadap merek. merupakan suatu perjalanan. Konsumen tersebut awalnya hanya sebagai anggota. Tahapan berikutnya, konsumen mengalami brandwash. Setelah itu, anggota brand tribe tersebut membantunya menciptakan sosial paralel. Akhirnya, konsumen tersebut mengikuti semua program yang ditawarkan merek tersebut. Sang merek memprogram apa yang dipikirkan serta dilakukan anggotanya.

Perjalanan menuju merek yang diambil alih terdiri dari tiga fase:

Fase pertama adalah tribal marketing, yakni pelanggan awal (early market) mengembangkan produk mereka. Pelanggan awal juga merupakan promosi yang baik melalui 'word of mouth' sekaligus membentuk jaringan atau komuniti. Dengan demikian, memilih pasar awal yang baik, yang memiliki keahlian, waktu serta penghargaan terhadap merek merupakan hal yang kritis.

Fase kedua adalah ko-kreasi. Setelah pelanggan awal tersebut terbentuk, mereka akan mengambil alih pesan dari merek tersebut.

Pada fase berikutnya, pasar utama yang besar telah siap mengadopsinya. Pada tahap ini, yang harus dilakukan adalah menjaga momentumnya. Saat ini, fokus kita bukan lagi hanya apakah merek itu ataupun apa yang dilakukan merek itu, tetapi sudah menawarkan fungsi budaya, yakni apakah arti merek itu. Ide dasar yang hendak dikemukakan adalah: menjadikan konsumen sebagai pemasar, serta menjadikan merek kita sebagai budaya.

sumber: http://managementfile.com

8 Level Proses Analisa Untuk Pengambilan Keputusan

(managementfile - Risk) - Risk management merupakan strategi untuk mengelola risiko dalam rangka mencapai tujuan. Hal yang sangat dibutuhkan oleh manajemen risiko adalah data dan analisa. Keduanya punya peranan yang sangat penting dalam menentukan pengambilan keputusan krusial dalam manajemen risiko.

Menurut SAS, terdapat delapan level proses analisa (analytics) yang digunakan dalam bisnis. Empat level pertama merupakan business intelligence dan umum dilakukan oleh semua perusahaan, serta lebih melihat aktivitas yang sudah berlalu. Keempatnya mendukung pengambilan keputusan reaktif, yakni memahami fakta setelah terjadinya sesuatu. Sementara itu, empat level terakhir mendukung pengambilan keputusan proaktif, dimana berusaha untuk berinovasi dan memprediksikan apa yang terjadi di masa mendatang.

Dalam manajemen risiko, kebutuhannya tentu hingga level terakhir, karena manajemen risiko memang harus mampu memprediksikan risiko-risiko apa saja yang potensial, dan mengukur bagaimana dampaknya, serta tindakan apa yang akan dilakukan.

Berikut ini adalah kedelapan level proses analisa:

1. Standard Report
Report ini hanya berisikan informasi-informasi yang standar, dihasilkan secara rutin, dan hanya menjelaskan apa yang terjadi dan kapan terjadinya. Sederhana namun bermanfaat, hanya saja tidak dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan jangka panjang. Contohnya adalah laporan keuangan kuartalan.

2. Ad Hoc Report
Report ini memberikan informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan report standar, dan lebih customized. Report ad hoc memungkinkan Anda untuk mengajukan pertanyaan serta mendesain laporan yang customized untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan yang lebih detail seperti dimana, seberapa banyak, hingga seberapa sering.

3. Query Drilldown
Tingkat analisa selanjutnya lebih mendalam lagi, yakni query drilldown, yang sudah berusaha untuk menemukan jawaban akan sesuatu. Pada tahap ini Anda berusaha mencari tahu dimana letak permasalahan, serta bagaimana solusinya. Contohnya adalah perusahaan berusaha untuk melakukan observasi terhadap perilaku konsumennya yang berbeda-beda.

4. Alerts
Tingkat selanjutnya adalah Alerts, yang akan memberikan indikasi ketika terjadi masalah, dan memberikan notifikasi jika hal yang serupa terjadi di masa depan. Alerts bisa muncul di mana saja, mulai dari RSS feeds, email, hingga indicator merah pada scorecard ataupun dashboard Anda. Di tahap ini, Anda selanjutnya akan merespon alert tersebut dengan mengambil tindakan yang diperlukan.

5. Statistical Analysis

Kemudian di tingkat kelima ada analisa statistic yang merupakan perhitungan rumit seperti regresi, korelasi dan sebagainya. Analisa statistic ini digunakan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan menjawab pertanyaan, berdasarkan pada data yang dimiliki. Selain dapat berfungsi untuk menjelaskan suatu data, analisa statistic juga dapat memperlihatkan pada Anda peluang yang mungkin terlewatkan.

6. Forecasting

Forecasting merupakan aktivitas yang diperlukan oleh semua bisnis, karena memungkinkan kita untuk melakukan perkiraan terhadap permintaan. Sehingga, kita dapat melakukan estimasi terhadap persediaan, sehingga tidak kurang ataupun berlebih. Forecasting juga memungkinkan estimasi terhadap kebutuhan finansial

7. Predictive Modeling
Selanjutnya, Predictive Modeling memungkinkan kita untuk melakukan prediksi jika terdapat suatu pemicu (event) tertentu. Misalnya, jika kita mau meluncurkan promosi tertentu, maka harus diperkirakan terlebih dahulu bagaimana respon masing-masing segmen pasar, sehingga Anda dapat menerapkan promosi yang paling sesuai dengan masing-masing target pasar.

8. Optimization

Optimization adalah usaha untuk pengambilan keputusan terbaik, dengan mengalokasikan sumber daya secara optimal sesuai dengan kebutuhan, sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Misalnya, Anda berusaha untuk mengalokasikan SDM, materi dan dana yang dialokasikan untuk proyek tertentu.

Langkah-langkah analisa tersebut sangat bermanfaat untuk melaksanakan manajemen risiko ataupun menyusun strategi. Hanya saja, dengan melakukannya tidak lantas menjamin suksesnya sebuah organisasi. Data-data yang ada harus terintegrasi dengan baik, dianalisa, kemudian dicarikan solusi yang tepat. Solusi atau implementasi dari pengambilan keputusan inilah yang kemudian menentukan kesuksesan dari organisasi.

sumber: http://managementfile.com

Monday, October 19, 2009

Manajemen Risiko Terorisme, Mutlak Perlu

Teror bom kembali melanda negeri kita tercinta, Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, kali ini dua hotel terkemuka yang jadi sasaran teroris, yakni Ritz Carlton dan JW. Marriott di Mega Kuningan- Jakarta tanggal 17-Juli-2009 lalu. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun keamanan sudah sangat ketat, namun manajemen risiko yang dilakukan masih kurang memadai. Manajemen risiko terorisme merupakan suatu langkah yang mutlak perlu demi mencegah dampak yang luar biasa negatif.

Berikut ini adalah serangkaian langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam manajemen risiko terorisme di ruang publik, baik itu hotel, mall dan lainnya.

Read More

Tuesday, December 9, 2008

3 Langkah Praktis Mewujudkan Ide Cemerlang Anda Menjadi Pundi-Pundi Uang

Bisnis internet itu intinya cuma satu, segera bertindak! Apapun ilmu yang anda dapat, berapapun ilmu yang anda pelajari, tidak ada ada gunanya kalau tidak segera dipraktekkan!

Langkah pertama anda akan menentukan sejauh mana keberhasilan anda. Anda pasti pernah nonton MOTO GP atau Formula 1. Valentino Rossi dan Schumacher tidak akan bisa jadi juara kalau mereka tidak melakukan start yang bagus. Artinya, kecepatan langkah pertama sangat menentukan kesuksesan yang mereka raih. Begitu juga dalam dunia bisnis. Siapa cepat dia dapat! Maksud saya, kecepatan anda dalam merintis bisnis akan memberi nilai tambah yang lumayan untuk kesuksesan anda.

Menjadi pelopor itu lebih baik daripada pengekor. Ya, karena produk pelopor inilah yang akan terus diingat orang. Nah, sekarang ide apa yang ada di kepala anda? Apa rencana untuk bisnis anda ke depan? Segera wujudkan! Segera eksekusi!

Banyak orang berbondong-bondong terjun di bisnis internet. Banyak orang menginvestasikan waktu dan tenaga mereka di depan monitor komputer. Tapi, tidak banyak yang bisa berhasil gemilang. Kenapa? Karena jarang ada yang bisa mengawal ide bisnis sampai ke puncak sukses. Kita terlalu lambat melangkah dan terlalu banyak berpikir. Padahal pada dasarnya, kita cuma learning by doing. Belajar sambil bekerja. Benar, sambil terus belajar kita juga harus mengerjakan apa yang sudah dipelajari. Dengan begitu, apapun ide yang anda telurkan bisa segera dierami dan menetas sempurna.

Bagaimana dengan anda? read more

Thursday, November 27, 2008

News

Negara Berkembang Hendaknya Perkuat Kerjasama Manajemen Bencana


(Vibiznews – Risk) - Pemerintah Indonesia menilai negara-negara berkembang harus dapat berbagi pengalaman dan keahlian dalam bidang manajemen resiko bencana agar tidak lagi tergantung kepada negara-negara maju.

Hal itu dikemukakan oleh Direktur Kerjasama Teknis Departemen Luar Negeri Esti Andayani seusai membuka acara Lokakarya Internasional Kerjasama Manajemen Resiko Bencana Selatan-Selatan mengenai Adaptasi Perubahan Iklim di Jakarta, Selasa.

"Kami kira negara maju akan lebih menghargai negara-negara berkembang jika negara berkembang dapat saling bahu membahu dalam memecahkan masalah tidaklagi terlalu bergantung pada negara maju," katanya.

Dalam hal itu, lanjut dia, Indonesia telah berperan aktif dengan berusaha mewujudkan komitmennya dalam berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan negara-negara berkembang di kawasan.

"Indonesia aktif mengadakan pelatihan, lokakarya, peluang magang di berbagai sektor pembangunan," katanya.

Menurut Esti, program lokakarya manajemen resiko bencana yang dihadiri oleh perwakilan dari 13 negara kali ini juga adalah salah satu bentuk komitmen Indonesia dalam semangat kerjasama.

Sementara itu Deplu, United Nations Economic dan Social Commission for Asia and The Pacific (ESCAP), Unit Khusus UNDP bagi kerja sama Selatan-Selatan dan GNB menyelenggarakan lokakarya internasional mengenai peningkatan kerja sama Selatan-Selatan dalam manajemen bencana alam di Asia Pasifik dengan fokus pada Adaptasi Perubahan Iklim pada 14-17 Oktober 2008.

Acara itu diikuti oleh 30 peserta dari13 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik yaitu Bangladesh, Cina, Fiji, Filipina, India, Laos, Maladewa, Papua Nugini, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste, Vietnam dan Indonesia.

Penyelenggaraan lokakarya itu bertujuan untuk mempromosikan kapasitas dan pengalaman berbagai instansi dan institusi di Indonesia di bidang manajemen resiko bencana (disaster risk management/DRM) dan adaptasi perubahan iklim (climate change adaptation/CCA) dalam menangani berbagai bencana alam di Indonesia kepada negara-negara peserta pelatihan serta sebagai forum pertukaran pengalaman dan gagasan di antara Indonesia dengan negara-negara peserta.

Lokakarya tersebut juga diharapkan mampu membangun jejaring di antara para peserta maupun para ahli DRM dan CCA. Jejaring yang sama juga diharapkan dapat terbentuk di antara lembaga-lembaga yang menangani dan memiliki perhatian dalam bidang DRM dan CCA.

Sebagai kawasan yang rentan terhadap bencana alam dan terhadap dampak perubahan iklim global, negara-negara di Asia Pasifik yang sebagian besar merupakan negara berkembang memerlukan sebuah mekanisme kerjasama guna menanggulangi dampak tersebut, baik di bidang sosial maupun ekonomi

Ref : Management


Risiko Sistem dari Ancaman Bangkrutnya AIG

Oleh: Rinella Putri

(Vibiznews – Risk) – Lehman Brothers sudah mengumumkan kebangkrutannya minggu lalu. Kisruh Lehman kemudian diikuti oleh AIG yang nafasnya tersengal-sengal hingga tiba hari ini ketika The Fed memutuskan untuk melakukan bailout terhadap raksasa asuransi tersebut. Lalu mengapa The Fed memilih untuk menyelamatkan AIG, dan bukan Lehman?

Hari ini, The Fed mengumumkan bahwa mereka akan memberikan pinjaman berjangka waktu 2 tahun bagi AIG senilai $85 miliar. Sementara itu, sebagai imbalnya, The Fed akan mengambil alih 79.9% kepemilikan dari raksasa asuransi tersebut dan mengganti jajaran manajemennya. CEO Robert Willumstad, menurut kabar yang beredar akan digantikan dengan mantan CEO Allstate Corp yakni Edward Liddy.

The Fed turun tangan setelah negosiasi AIG dengan JPMorgan dan Goldman Sachs gagal menemui solusi. Dana pinjaman bagi AIG ini nantinya akan dipergunakan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang jatuh tempo. Sementara itu, dalam jangka waktu tersebut AIG diperkirakan akan menjual asset-aset yang dimilikinya demi mengembalikan pinjaman kepada The Fed. Sepanjang minggu lalu, saham AIG sudah anjlok sebesar 80% seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap ancaman kebangkrutannya.

Sepanjang tiga kuartal pada tahun 2008 ini, AIG sudah mencatatkan kerugian total senilai $18.5 miliar dari writedown akibat krisis subprime mortgage yang menimpa AS. Saat ini AIG menjamin sekitar $442 miliar investasi perbankan dan institusi lainnya, termasuk $57.8 miliar investasi yang terkait dengan subprime mortgage.

Kekhawatiran pasar timbul ketika Moody’s Investor Service, Standard and Poor’s serta Fitch menurunkan rating kredit AIG. Sehingga, hal ini memaksa AIG untuk mencari tambahan likuiditas demi menjamin kontrak asuransinya terhadap pihak ketiga. Tanpa dana tersebut, maka AIG akan mengalami default terhadap kewajiban-kewajibannya dan para pembeli asuransi mereka. Sehingga pihak ketiga yang terkait dengan AIG berpotensi mengalami kerugian yang besar dari tiadanya jaminan terhadap investasi mereka.

Sebenarnya, sebesar apakah dampak yang timbul dari kemungkinan bangkrutnya AIG? Tentunya The Fed punya alasan penting mengapa mereka memilih untuk menyelamatkan AIG dibandingkan Lehman. Jika AIG benar-benar bangkrut, maka hal ini berpotensi menimbulkan malapetaka financial berskala global. Menurut RBC Capital Markets, jika AIG benar-benar collapse, maka industri finansial ditaksir bakal mengalami kerugian senilai $180 miliar atau setara dengan 1,674 kuadriliun rupiah.

Kehancuran AIG mengancam terjadinya efek domino, karena mereka sangat terkait dengan pihak-pihak ketiga. AIG mengasuransikan mortgage-backed securities dan instumen derivative lainnya terhadap risiko default. Jika AIG tidak mampu membayarkan apa yang sudah dijaminnya, maka tentunya ini akan menimbulkan dampak signifikan terhadap sektor finansial AS.

Mengapa bukan Lehman? Keputusan The Fed untuk tidak menggunakan uang rakyat yang membayar pajak untuk menolong Lehman Brothers jelas disebabkan karena mereka memandang bahwa bangkrutnya Lehman tidak menimbulkan risiko sistematis sebesar ancaman risiko yang dihadirkan oleh AIG.

Melalui krisis financial ini, pelajaran yang bisa dipetik adalah, betapa mahalnya harga suatu moral hazard. Sehingga mudah-mudahan krisis ini tidak akan terulang kembali di masa depan.

Ref : Management>


SEC Akan Terapkan Regulasi Baru Untuk Lembaga Rating

Oleh: Rinella Putri

(Vibiznews – Risk) – SEC, lembaga pengawas pasar modal AS, berusaha untuk memperbaiki regulasi yang berkaitan dengan lembaga rating. Tujuannya adalah supaya memperbaiki asymmetric information di pasar dan memperkecil risiko investor. Rencananya, SEC akan segera menetapkan aturan baru bagi lembaga rating.

Tiga perusahaan yang mendominasi bisnis rating senilai $5 miliar antara lain adalah Standard &Poor’s, Moody’s Investor Service dan Fitch Rating. Ketiganya juga banyak disalahkan akibat gagal mengidentifikasi besarnya risiko dari investasi pada subprime mortgage yang mengakibatkan krisis kredit global. Ketiga perusahaan rating ini dikritik karena overrated (memberi rating terlalu tinggi) kepada sekuritas-sekuritas yang dijamin oleh bad loan, sehingga mengakibatkan investor menerima risiko yang lebih besar dari yang mereka bisa tanggung.

Menurut chairman SEC Christopher Cox seperti dikutip CFO Magazine, kompleksitas produk terstruktur (structured product) serta kurangnya informasi berkualitas mengenai underlying asset menjadikannya sulit untuk menentukan rating kredit.

Salah satu aturan yang bakal ditetapkan adalah: lembaga rating tidak boleh mengeluarkan rating untuk produk terstruktur kecuali mereka memiliki informasi yang cukup mengenai underlying asset-nya. Lembaga rating juga tidak akan diperbolehkan untuk memberikan nasihat bagi investment bank mengenai bagaimana supaya sekuritas mereka memiliki rating yang bagus. Selain itu, hadiah lebih dari $25 dari perusahaan atau mereka yang menerima rating tidak akan diperbolehkan.

SEC juga akan mewajibkan lembaga rating meningkatkan disclosure atau transparansi. Lembaga rating harus membuat rating mereka tersedia secara publik untuk menjaga supaya tidak overrated. Mereka juga harus mengeluarkan informasi yang digunakan dalam membuat rating dan mempublikasikan statistik kinerja perusahaan secara regular. Mereka juga akan diwajibkan mempublikasikan laporan tahunan mengenai seluruh rating yang mereka buat dan menyimpan informasinya dalam sebuah database. Lembaga rating tersebut juga diminta untuk mengemukakan mengenai seberapa rutin mereka mengkaji kembali rating yang terlah mereka tetapkan pada sekuritas tertentu.

Cox mengungkapkan bahwa rating pada produk terstruktur sesungguhnya berbeda dengan rating utang yang biasa. Mengapa? Hal ini disebabkan karena produk terstruktur lebih sensitive terhadap guncangan perekonomian, karena sangat tergantung pada model kompleks yang nyatanya tidak sempurna, dan juga didorong oleh asumsi-asumsi tertentu sehingga menjadi lebih berisiko

Ketiga lembaga rating: S&P, Moody dan Fitch, ketiganya setuju untuk bekerjasama untuk meningkatkan kualitas analisa mereka. Beberapa waktu lalu, ketiga lembaga rating ini menandatangani kesepakatan dengan pengacara New York Andrew Cuomo untuk menciptakan independensi yang lebih baik dan hasil yang lebih akurat.

Mudah-mudahan dengan diterapkannya aturan baru ini, maka krisis kredit tidak akan terulang kembali.

Ref :
Management